Catatan Lapangan Festival Kuliner Terbesar di Surabaya dari Grand City sampai Tunjungan

Pada November 2024, Pak Hadi, sopir ojek langganan di daerah Rungkut, cerita kalau ia mampir ke festival jajanan di halaman Grand City Surabaya setelah mengantar penumpang. Ceritanya ia sampaikan sambil menunggu hujan reda di depan minimarket dekat kantor lama saya. Helmnya masih basah, jaketnya bau jalanan, tapi matanya hidup sekali begitu menyebut kata sate klopo.
Ia beli sate klopo 10 tusuk Rp55.000 dari stan yang asapnya paling tebal. Katanya, dagingnya agak gosong di pinggir tapi gurih kelapanya kuat, sampai ia rela berdiri 17 menit sambil mengibas-ngibas asap dengan helm karena matanya perih. Saya tertawa waktu itu, bukan karena berlebihan, tapi karena gambaran itu terlalu Surabaya: panas, ramai, sedikit semrawut, lalu tiba-tiba ada makanan yang bikin orang tetap bertahan.
Asap yang Menjadi Penanda Arah
Saya belum tentu percaya kalau orang bilang sebuah festival kuliner besar hanya dari ukuran panggung atau jumlah spanduk sponsornya. Kalau saya pribadi, ukurannya lebih sederhana: seberapa jauh bau makanan bisa menarik orang yang awalnya tidak berniat mampir. Cerita Pak Hadi di Grand City itu pas sekali.
Halaman Grand City Surabaya memang sering terasa seperti titik temu orang yang rutenya beda-beda. Ada yang datang sengaja berburu makanan, ada yang selesai belanja, ada yang menunggu keluarga, ada juga yang seperti Pak Hadi, baru mengantar penumpang lalu kepancing asap. Ia bukan tipe orang yang gampang memuji stan makanan. Biasanya komentarnya pendek: kemahalan, biasa saja, atau kurang panas.
Tapi malam itu ia cerita agak panjang.
Ia bilang asap dari stan sate klopo itu seperti tirai tipis yang bikin mata cepat pedih. Suara penjepit besi ketemu panggangan terdengar rapat, diselingi kipas kecil yang kalah tenaga. Di sebelahnya, orang-orang bergeser pelan sambil membawa minuman dingin. Ada anak kecil menutup hidung, ada bapak-bapak justru mendekat karena penasaran. Ya begitulah festival kuliner di Surabaya, kadang bukan peta stan yang membantu, tapi hidung sendiri.
Dari cerita Pak Hadi, saya menangkap satu hal yang sering luput kalau kita membicarakan festival kuliner terbesar di Surabaya. Yang besar bukan hanya area dan jumlah pengunjung. Yang besar juga kumpulan keputusan kecil: orang memilih antre, bertahan di asap, menahan lapar, lalu membayar satu porsi yang mungkin tidak murah untuk ukuran makan cepat. Sepuluh tusuk Rp55.000, bagi sebagian orang, lumayan juga. Tapi kalau rasa gurih kelapanya kuat dan pinggir dagingnya sedikit gosong seperti yang ia bilang, harga itu masuk ke wilayah kenangan, bukan sekadar transaksi.
Antrean Panas di Jalan Tunjungan
Saya jadi ingat cerita lain, kali ini dari Mas Rendra, teman ngopi saya yang tinggal di Ketabang. Di Festival Kuliner Tunjungan, Jalan Tunjungan, Februari 2024, Mas Rendra dari Ketabang sempat ngotot antre lontong balap karena katanya kuahnya mirip buatan ibunya. Antrean bergerak 28 menit dari depan bekas Gedung Siola sampai stan kecil dekat panggung. Seporsinya Rp25.000, tapi begitu petisnya kena sendok pertama, wajah Rendra langsung kalem, padahal udara sore itu masih panas dan bau sate klopo dari stan sebelah ikut nempel di baju. Saya ada di dekatnya waktu itu, meski tidak ikut antre dari awal. Saya datang setelah ia mengirim pesan singkat: "Cepat sini, ini kuahnya serius." Pesan begitu dari Rendra jarang muncul. Biasanya ia lebih sering mengeluh soal parkir atau harga es teh yang naik. Maka ketika ia mengajak dengan nada begitu, saya tahu ada yang sedang bekerja di kepalanya, mungkin ingatan rumah, mungkin dapur ibunya, mungkin hal-hal kecil yang susah dijelaskan. Jalan Tunjungan sore itu padat, tapi bukan padat yang membuat orang langsung ingin pulang. Ada suara musik dari panggung, obrolan kelompok kantor yang baru bubar kerja, dan bunyi sendok plastik masuk ke mangkuk lontong balap. Surabaya, yang menurut Wikipedia merupakan ibu kota Provinsi Jawa Timur, memang punya cara sendiri untuk mengubah jalan kota menjadi ruang makan bersama. Tidak selalu rapi. Tapi hidup. Yang saya ingat dari wajah Rendra adalah perubahan cepat setelah sendok pertama. Sebelumnya ia cerewet, mengeluh panas, mengelap dahi dengan tisu yang sudah lecek. Begitu petisnya kena, ia diam beberapa detik. Lalu bahunya turun. Wajahnya kalem, seperti orang yang baru menemukan kursi setelah berdiri terlalu lama.
Ngga nyangka, satu mangkuk Rp25.000 bisa membuat orang setenang itu.
Harga, Porsi, dan Kesabaran Orang Surabaya
Pertanyaan itu wajar. Tapi di lapangan, jawaban paling jujur biasanya tidak sebersih itu. Enak bisa kalah oleh antrean. Murah bisa terasa mahal kalau porsinya tanggung. Makanan biasa bisa jadi istimewa karena dimakan saat badan capek dan cuaca sedang tidak ramah.
Di Grand City, Pak Hadi tidak sedang mencari menu terbaik. Ia hanya selesai bekerja dan melihat stan dengan asap paling tebal. Di Jalan Tunjungan, Rendra tidak mencari konten foto. Ia mengejar rasa kuah yang katanya mirip buatan ibunya. Dua cerita itu berbeda, tapi garisnya sama: festival kuliner besar bekerja karena makanan di sana menempel pada keadaan orang yang datang Ringkasannya pernah saya buat di jajanan khas.
Saya beberapa kali memperhatikan orang di festival seperti ini. Ada pasangan yang menghitung uang tunai sebelum memilih stan. Ada keluarga yang membeli satu porsi dulu untuk dicicipi bersama. Ada pekerja lapangan yang makan cepat sambil berdiri karena motornya diparkir jauh. Ada juga orang yang antre panjang hanya karena melihat ekspresi orang sebelumnya terlihat puas.
Hal-hal semacam itu membuat festival kuliner terasa lebih jujur daripada brosur acaranya. Kita bisa membaca kota dari cara orang makan. Di Surabaya, orang sering tampak praktis, cepat memutuskan, tapi tetap punya ruang sentimental untuk rasa tertentu. Sate klopo yang agak gosong di pinggir bisa jadi cerita ojek malam. Lontong balap dengan petis yang pas bisa mengembalikan orang Ketabang ke meja makan rumahnya.
Saya tidak bilang semua stan pasti berhasil. Ada juga yang biasa saja. Ada minuman yang terlalu manis, ada gorengan yang sudah tidak panas, ada meja yang lengket karena terlalu banyak tangan lewat. Tapi justru di situ festival terasa nyata. Kalau semuanya mulus, saya malah curiga.
Festival Besar yang Terasa Dekat
Bagi saya, festival kuliner terbesar di Surabaya tidak harus dibaca sebagai satu panggung megah saja. Ia lebih seperti kumpulan momen yang tersebar, dari halaman Grand City Surabaya sampai Jalan Tunjungan, dari antrean depan bekas Gedung Siola sampai stan kecil dekat panggung, dari helm yang dipakai mengibas asap sampai baju yang pulang dengan bau sate klopo. Ukurannya terasa dari gerak orang-orang itu.
Ada sisi praktis yang juga penting. Datang ke festival begini sebaiknya tidak terlalu lapar. Kalau sudah lapar berat, antre 28 menit bisa membuat orang gampang kesal. Bawa uang tunai secukupnya, meski banyak stan sudah menerima pembayaran digital. Pakai baju yang rela kena bau asap. Ini bukan restoran tertutup dengan pendingin ruangan. Ini ruang terbuka, cuaca Surabaya, dan panggangan yang bekerja tanpa basa-basi. Saya juga belajar untuk tidak mengejar terlalu banyak menu dalam satu kunjungan. Dua atau tiga pilihan cukup. Lebih dari itu, lidah mulai bingung dan perut mulai protes. Lebih baik mengingat satu rasa dengan jelas daripada pulang membawa daftar panjang yang setengahnya terlupakan. Kira-kira begitu cara saya menikmati festival kuliner sekarang.
Mungkin karena itu cerita Pak Hadi masih menempel di kepala saya. Bukan karena sate klopo 10 tusuk Rp55.000 itu pasti paling istimewa di seluruh kota, melainkan karena ia menggambarkan alasan orang Surabaya tetap datang ke festival kuliner besar: ada asap yang bikin mata perih, ada pinggir daging yang agak gosong, ada gurih kelapa yang kuat, dan ada orang seperti Pak Hadi yang setelah seharian di jalan masih mau berdiri 17 menit demi satu porsi yang membuat malamnya terasa sedikit lebih beres.
Referensi: sumber resmi.
Selengkapnya di: sumber resmi
